Tetap Tegar di Masa Sukar - 1

I Petrus 3:8-4:19

Hidup ini sulit. Inilah realita yang kita alami sehari-hari. Setiap hari kita harus berjuang dengan lalu lintas yang makin macet, pekerjaan yang makin keras persaingannya, beban kebutuhan hidup keluarga yang makin membengkak. Gereja? Wah kadangkala justru pelayanan di gereja melahirkan banyak masalah dan konflik yang seperti duri tajam menusuk dan menyakitkan. Di luar kesulitan-kesulitan itu kita masih harus terbayang-bayangi dengan resiko terjadinya bencana alam, tertular penyakit-penyakit yang makin ganas, dan juga bahaya kejahatan yang makin variatif metodenya. Ibarat sebuah botol air, maka daya tampung dan daya tahan manusia dalam menghadapi kesulitan itu ada batasnya. Stress dan gangguan kejiwaan menjadi sahabat yang makin akrab dengan kehidupan manusia masa kini.

Kadangkala juga ada orang-orang yang menyangkali realita sulitnya hidup ini. Kata-kata mereka senantiasa indah dan berbunga-bunga. Kadang-kadang juga dibungkus dengan kata-kata rohani, seolah-olah mengesankan iman yang kuat. "Tidak ada masalah di sini, yang ada hanya kesempatan. Tidak ada yang mustahil bagi anak-anak Tuhan," mungkin begitu kata mereka. Tentu, menyemangati orang lain untuk menjadi tangguh adalah pekerjaan yang mulia.

Tetapi, tentu saja tidak boleh menyemangati orang dengan menutupi realita yang sebenarnya. Ibarat orang sakit kanker di kepalanya, kita tidak boleh menyemangatinya dengan berkata," Tenang, hanya sakit kepala biasa. Pasti akan sembuh." Masalahnya sekarang adalah bagaimana supaya kita tetap tegar di masa sukar? Istilah tegar merujuk kepada sifat keras, kaku, tidak dapat berubah dan tabah. Sedangkan ketegaran itu sendiri mengacu kepada sikap hati yang tidak tergoyahkan dalam menghadapi sesuatu yang bertentangan dengan kondisi yang diharapkan.
Loading...

Secara berkelanjutan saya ingin memaparkan tiga langkah untuk menjadi tegar di masa yang sukar.
Langkah pertama untuk menjadi tegar di masa sukar adalah mengakui bahwa saat ini kita berada di masa sukar.

Tidak menyangkali, tidak menutup-nutupi kenyataan betapa sukarnya hidup ini. Rasul Petrus dalam suratnya yang pertama justru berbicara dengan lugas tentang penderitaan-penderitaan yang akan terjadi di dalam kehidupan umat Tuhan. Kepada umat Tuhan yang terpaksa tersebar karena penganiayaan, Rasul Petrus menyadari betapa keras dan sulitnya hidup mereka. Umat Tuhan saat itu mengalami kesulitan untuk menggapai hidup yang sejahtera, karena mereka adalah pendatang yang terpaksa berkelana dengan bekal yang terbatas. Bukan hanya itu saja, mereka juga harus menanggung beban penderitaan tambahan karena identitas mereka sebagai umat Tuhan.

Terhadap kenyataan seperti ini, Rasul Petrus tidak menyalahkan mereka. Ia tidak mendakwa umat yang mengalami kesulitan itu sebagai orang yang telah berbuat dosa besar, atau kekurangan iman. Rasul Petrus bahkan mengatakan," … sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia … " (I Petrus 3:14). Terimalah kenyataan bahwa kehidupan ini makin lama, makin terasa sukar dengan meningkatnya kebutuhan hidup. Jangan membanding-bandingkan dengan masa lalu yang lebih baik, apabila pembandingan tersebut hanya akan menambah beban hidup kita di masa kini. Dengan menerima kenyataan, maka kita akan menyadari bahwa semua orang mengalami hal yang sama dan memang kita sedang ada di dalam masa sukar dan kita memerlukan uluran tangan Tuhan.

Simak dan renungkan pujian ini:
Terkadang kita merasa
Tak ada jalan terbuka
Tak ada lagi waktu, terlambat sudah
Tuhan tak pernah berdusta
Dia s’lalu pegang janji-Nya
Bagi orang percaya mukjizat nyata

   Dia mengerti, Dia perduli
   Persoalan yang sedang terjadi
   Dia mengerti, Dia perduli
   Persoalan yang kita alami
   Namun satu yang Dia minta
   Agar kita percaya, Sampai mukjizat menjadi nyata

Baca berikutnya :
Tetap Tegar di Masa Sukar - 2

0 comments:

Post a Comment

 
Yohanes 14:6b "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.