Doa: Menutup Mata, Menembus Batas - 1

Kisah Para Rasul 4:23-31
Saya bersyukur dengan hadirnya jemaat di dalam ibadah doa mujizat dan pemulihan setiap hari Jumat sore jam 18.00. Secara umum saya bertanya di dalam hati saya sendiri, "Kenapa ya, kadang-kadang kita kita kok sulit sekali menemukan orang yang punya semangat yang besar untuk berdoa. Hanya orang-orang tertentu yang rajin dan tekun datang ke doa malam?” Sungguh ini bukan sebuah pertanyaan yang sederhana untuk dijawab. Tentu ada banyak variabel yang harus kita pertimbangkan kalau kita ingin menjawab pertanyaan itu. Tidak ada satu saja jawaban yang mudah: karena ini, karena itu atau karena hal yang lain.

Kali ini kita akan berbicara tentang satu sisi saja mengenai kehidupan doa kita. Kalau kita percaya dan mengakui bahwa doa adalah komunikasi kita dengan Allah, maka itu artinya kita berkomunikasi dengan Allah, dan Allah berkomunikasi dengan kita. Tetapi sama halnya seperti bentuk komunikasi-komunikasi yang lain, tingkat relasi kita akan menentukan jenis komunikasi kita. Misalnya yang sederhana saja; misalnya saya naik kereta api dari Malang menuju Semarang. Di sebelah saya duduk seseorang yang tidak saya kenal dan yang belum pernah saya lihat wajahnya sebelumnya. Kami sama sekali tidak mempunyai relasi apapun. Apakah kami akan berkomunikasi? Mungkin ya, mungkin tidak. Mungkin sama-sama diam. Kalaupun berkomunikasi tingkatnya akan berada pada tingkat basa-basi. "Bapak ke Semarang, ya?" (Padahal ini memang kereta ke Semarang). "Hari ini agak mendung, ya, Pak?" (Padahal semua orang juga sudah tahu). Jadi komunikasi yang terjadi paling-paling tingkatnya hanya sekedar basa-basi saja. Belum lagi kalau orangnya yang kita ajak komunikasi itu seram pembawaannya. "Ke Semarang, ya?" ("Hm em"). "Hari ini mendung, ya?" ("Hmm"). Lama-lama karena tidak ada relasi, maka akhirnya komunikasi akan mati. Di pihak kita, kita juga enggan untuk memulai. Ada rasa tidak suka, karena tidak ada relasi yang sebenarnya. Namun, bayangkan seandainya, yang di sebelah saya itu adalah isteri, kekasih saya. Belum duduk pun, saya pasti sudah mengajaknya berbicara. Pertanyaannya pasti tidak basa-basi macam "Ini ke Semarang, ya?" Pasti tidak. Pasti pertanyaannya timbul dari hati ke hati. Perjalanan panjang pun terasa singkat dan menyenangkan, ketika komunikasi kami lancar. Semakin dekat relasi kita, semakin akrab dan dalamlah tingkat komunikasi kita. Kita pun akan menikmatinya.
Loading...

Ada kalanya kita menyadari bahwa tingkat kehidupan doa kita tidak lancar. "Rasanya saya susah mau ngomong apa waktu berdoa". "Saya ndak tau, Pak, doa saya kayak telegram atau sms : Tuhan berkati ini, Tuhan berkati itu. Selesai." "Saya heran kok ada orang bisa berdoa berjam-jam, saya nggak bisa itu. Saya bisa baca koran, nonton TV berjam-jam, tapi kalau berdoa saya nggak bisa."

Ketika kita merasa asing di hadapan Allah, ketika kita merasa tidak tahu mau berdoa apa lagi, dan rasanya kalimat-kalimat doa kita seperti basa-basi saja, di saat itulah kita harus bertanya tentang kedalaman relasi kita dengan Allah. Apakah Allah terasa seperti orang asing bagi kita, sehingga kita enggan untuk berkomunikasi dan berbicara? Kita tidak tahu mesti mengatakan apa lagi di hadapan-Nya? Kalau hal ini terjadi pada hidup kita, sesungguhnya ada sesuatu yang tidak beres dalam relasi kita dengan Tuhan.

Salah satu indikator dari kerohanian yang sehat adalah jumlah jam-jam doa. Jumlah saat-saat di mana kita mengungkapkan kedekatan relasi itu di dalam komunikasi yang erat dan akrab dengan Allah. Apa sih untungnya kita berdoa? Apa sih yang kita dapatkan ketika kita berdoa? Apa sih pentingnya doa? Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul di benak kita. Berdasarkan Kisah Para Rasul 4: 23 - 31, saya ingin membagikan 2 hal yang terjadi ketika kita mulai berdoa.
Hal yang pertama dapat kita temukan di dalam ayat 24 dan 29, dan yang sebelumnya didahului oleh ayat 28. Di dalam ayat-ayat tersebut kita melihat bahwa doa mengarahkan mata batin kita untuk melihat sebuah perspektif kedaulatan Tuhan. Di tengah pergumulan kehidupan kita sehari-hari, ketika kita berdoa, sesungguhnya yang terjadi adalah : mata batin kita diarahkan melalui doa itu kepada sebuah pemandangan kedaulatan Tuhan. Para murid waktu itu berada di dalam suatu situasi yang sangat terjepit. Nyawa mereka taruhannya. Di dalam pemandangan mereka secara kasat mata yang nampak adalah orang-orang yang mengancam mereka. Sedangkan para murid jumlahnya sedikit saja, dan mereka tidak dapat meminta tolong kepada orang lain. Tetapi perhatikanlah sesuatu terjadi ketika mereka berdoa. Perhatikan kalimat-kalimat pertama yang keluar dari bibir mereka. Kalimat mereka menunjukkan sebuah perspektif kedaulatan Tuhan. Mereka tidak mulai dengan keluhan bahwa begitu banyak musuh mereka atau betapa menyengsarakannya musuh mereka itu. Tetapi mereka mulai dengan doa, "Ya, Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi..."

Doa mereka memberikan suatu terobosan untuk melihat bahwa di tengah masalah dan pergumulan mereka, ada tangan Tuhan yang berkuasa dan berdaulat. Ada tangan Tuhan yang berkuasa di balik semua musuh-musuh mereka. Ada tangan Tuhan di balik semua tekanan yang menimpa hidup mereka. Doa itu memberi mereka sebuah terobosan untuk melihat perspektif kedaulatan Tuhan.

Ada pepatah berbunyi : "seperti katak di dalam tempurung"; artinya orang yang tidak memiliki wawasan yang luas. Ketika hidup kita nyaman, indah dan semuanya berjalan baik, kita mungkin merasa tidak ada beban di dalam hidup ini. Tetapi ketika kita mulai diperhadapkan kepada tantangan dan pergumulan tertentu, kita bisa menjadi seperti "katak di dalam tempurung" tadi. Artinya beban pergumulan itulah yang menguasai dunia kita, pikiran kita, dan hati kita, sehingga kita tidak bisa melihat hal lain selain dari beban pergumulan dan permasalahan itu. Ada orang yang mengeluh, "Setiap saya bangun, saya teringat masalah ini. Sewaktu saya makan , sayapun teringat masalah ini; bahkan saat saya ingin membaringkan diri dan tidur, masalah itu teringat kembali." Jadi beban pergumulan akan mengurung kita seperti tempurung yang mengurung katak. Makin lama tempurung itu makin mengecil, makin mengecil dan makin mengecil, sehingga kita seolah ingin berkata, "Saya nggak melihat jalan keluar yang lain. Saya nggak tau lagi mesti ngapain. Saya nggak bisa lagi. Saya sudah mandek, Pak". Ketika wawasan kita sudah semakin sempit dan terjepit, maka saat itu segala sesuatu sepertinya halal untuk dilakukan. Bukankah kita mendengar ada orang yang mengakhiri hidupnya karena beban dan pergumulannya? Kita mungkin heran, "Pak, ia kan orang pintar dan terpelajar. Kenapa kok bisa mengambil langkah itu?" Hal itu terjadi karena beban dan pergumulan itu membuatnya terbelenggu dalam tempurung yang makin lama makin kecil, sehingga ia tidak melihat adanya terobosan yang lain. Kita mungkin juga pernah mendengar ada orang yang melakukan sesuatu sehingga kita bertanya, "Kok, sampai ia melakukan hal yang setega itu pada keluarganya?" Itu terjadi karena beratnya beban di atas pundaknya dan sempitnya wawasan karena beban dan pergumulan tersebut.

Doa membawa kita untuk menerobos sempitnya wawasan hidup kita yang dikungkung oleh masalah. Doa memampukan kita untuk menerobos dan melihat bahwa di balik semuanya ada tangan Tuhan yang bekerja. Bahwa di balik semua orang-orang yang menyulitkan hidup saya, di balik semua orang-orang yang membuat hidup saya berantakan, sesungguhnya ada kendali dan kuasa Tuhan. Ketika kita berdoa, sesungguhnya doa itu mengarahkan mata batin kita untuk melihat sesuatu yang tidak nampak dengan mata jasmani; untuk melihat tangan Tuhan yang penuh kuasa. Ketika kita enggan berdoa, atau ketika doa kita hanya sekedar basa-basi, maka tidak akan mungkin terobosan itu ada di dalam hidup kita. Doa mengarahkan mata batin kita ke arah sebuah perspektif kedaulatan Tuhan.

Doa: Menutup Mata, Menembus Batas - 2

0 comments:

Post a Comment

 
Yohanes 14:6b "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.