Keluarga yang Diberkati - 2

Baca Sebelumnya : Keluarga yang Diberkati - 1

PEMBAHARUAN PERJANJIAN KELUARGA: “Aku dan seisi rumahku akan melayani TUHAN”

Pada pesan Gembala sebelumnya, Keluarga yang Diberkati - 1 sebelumnya kita para pria telah belajar bagaimana berperan dengan benar sesuai dengan kebenaran Alkitab. Sekarang saya mempersilahkan para wanita untuk merenungkan bagian peran yang harus dilakukan di dalam perjanjian dengan Allah.

PERAN ISTERI SEBAGAI KEPALA RUMAH TANGGA (“seisi rumahku…”)

a. Kepala rumah tangga sebagai pelindung perjanjian
Ingat bahwa isteri adalah kepala rumah tangga. Urusan di dalam rumah tangga, isteri yang mengatur. Oleh karena itulah ia menjadi pelindung perjanjian dan pendukung suami dalam menjalankan perjanjian. Lihatlah betapa besar pengaruh isteri jika mereka lalai menjadi pelindung perjanjian. Contoh:
  • Hawa jatuh dan ia membujuk Adam untuk jatuh juga.
  • Sara berusaha memberi jalan keluar pada Abram untuk menggenapi janji Tuhan dengan meminta Abram untuk mengambil Hagar.
  • Isteri Lot yang menoleh ke belakang karena melihat harta.
b. Isteri sebagai teman pewaris kasih karunia
  • Menghormati suami
  • Memastikan bahwa seisi rumah tangga mendapatkan kasih karunia.
Pernahkah saudara mendengar nama John Wesley dan Charles Wesley. Mereka adalah anak-anak dari seorang wanita yang bernama Susan Wesley. Wanita yang mengagumkan. Ia mendidik 11 anaknya. Setiap malam ia mendatangi kamar anaknya, membawa mereka di dalam doa. Setelah anak-anaknya besar, ternyata semua anaknya menjadi orang besar di dalam pelayanan.

Marilah kita mengikuti kisah tentang seorang Ibu yang berkorban. "Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang kearah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!
Loading...

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."

Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Iapun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, "Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku.

Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya." Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah... bahwa sang ibu tidak memiliki telinga.

"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?" Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati.

Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.

0 comments:

Post a Comment

 
Yohanes 14:6b "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.